Rabu, 23 November 2011

Menentukan SMA atau SMK

Sekolah menengah kejuruan (SMK) selama ini identik sebagai sekolah bagi orang yang tidak ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, melainkan sekolah untuk bisa cepat mencari kerja. Ini disebabkan paradigma masyarakat bahwa mengenyam pendidikan di SMK dianggap menjadi pilihan terakhir atau "kelas dua". Bahkan SMK diketahui hanya sebagai sekolah yang melulu praktik tanpa ada pembelajaran teori seperti Matematika, Agama, Bahasa, Kimia, Biologi dan lainnya. Sementara sekolah menengah atas (SMA) malah sebaliknya. Sekolah ini masih tetap menjadi idola bagi peserta yang akan melanjutkan pendidikannya setelah menyelesaikan sekolah menengah pertama (SMP). Sehingga tidak heran jika mereka beramai-ramai mendaftar ke SMA. Kalaupun pada akhirnya ada yang mendaftar ke SMK, biasanya karena merasa ragu dengan nilai hasil UN. Mereka takut tidak memenuhi nilai kelulusan untuk masuk ke SMA, sehingga pilihannya beralih ke SMK sebelum pendaftaran penerimaan ditutup. Kasubdis SMK Dinas Pendidikan Sumut Dra Erni Mulatsih mengakui, pada masa lalu masyarakat beranggapan SMK itu dinomorduakan setelah SMA. Namun seiring dengan kebutuhan pasar kerja, berdasarkan data statistik, ternyata lulusan SMK merupakan kontribusi terkecil pada jumlah penggangguran dibanding lulusan sederajatnya. Beranjak dari hal tersebut, kata Mulatsih, pemerintah berencana mengubah paradigma bahwa SMK lebih banyak daripada SMA. Artinya, angka penggangguran nantinya akan berkurang dengan adanya lulusan SMK dibanding SMA. Sebab lulusan SMK sudah memiliki kompetensi keterampilan/liftskill. Untuk itu, merupakan "PR" bagi pemerintah bagaimana meningkatkan SMK dari "kelas dua" menjadi "kelas satu". Dalam arti kata, harus segera dimulai upaya membuat lulusan SMK menjadi layak jual. Caranya adalah dengan meningkatkan sarana dan prasarana, SDM (guru) dan pembinaan kurikulumnya. "Inilah cara-cara yang kita upayakan khususnya di Sumut yang masih ketinggalan. Sehingga SMK itu memang benar-benar menjadi sekolah seperti yang diinginkan pemerintah, dalam hal mengatasi pengurangan pengangguran," ujar Mulatsih. Menurut Mulatsih, ke depan nantinya Disdiksu berkeinginan untuk mengejar ketertinggalan itu melalui APBN/APBD. Diharapkan, masyarakat khususnya wali murid dapat mengetahui bahwa lulusan SMK akan sama seperti pendidikan di luar negeri. Di mana lulusannya memiliki kompetensi sesuai dengan kemampuan dan keterampilannya, sesuai moto SMK yakni siap kerja, berwawasan dan kompetitif. Upaya ke arah tersebut tambah Mulatsih, terus digalakkan pemerintah. Pada tahun 2010 nanti diharapkan lulusan SMK akan lebih banyak dari SMA, dengan perbandingan 60:40 persen. "Untuk mencapai jumlah siswa SMK 60 persen itu, kita perlu sosialisasi terhadap masyarakat, para Kepala Sekolah SMP agar bisa mengarahkan lulusannya masuk ke SMK. Caranya dengan memperkenalkan berbagai keahlian yang tersedia di jenjang pendidikan tersebut, tanpa membatasi untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di segala line program studi. Termasuk di bidang eksakta sekalipun seperti fakultas kedokteran atau lainnya sesuai dengan kemampuannya," kata Mulatsih. Sementara itu berdasarkan petunjuk dari pemerintah melalui Direktorat Pembinaan SMA Depdiknas, pada tahun 2014 akan dilakukan lagi penambahan rasio murid SMA dengan SMK menjadi 33:67 persen atau 33 persen SMA dan 67 persen SMK. Tujuan rasio SMA diperkecil tidak lain agar lulusan SMA bisa masuk ke perguruan tinggi. Sedang yang ingin masuk dunia kerja bisa masuk SMK, dengan ketentuan agar SMK dituntut meningkatkan mutu. Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Atas Dr Sungkowo M, menerangkan, kebijakan Diknas ini titik beratnya adalah meningkatkan mutu SMA. Tujuanya agar lulusan SMA bisa masuk ke perguruan tinggi. Kegiatan ini jangkauannya luas, sebab mencakup akses dan kesempatan tata kelola. Sementara di tempat terpisah Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Percut Sei Tuan Drs Jaswar MPd mengatakan, masyarakat belum tahu tentang kompetensi dan skill yang dimiliki para lulusan SMK. Untuk itu perlu dilakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah SMP, sehingga mereka memahami tentang pendidikan di SMK. Hal itu bisa dilakukan dengan mengundang sekolah-sekolah SMP setiap ada event di SMK. Dijelaskan Jaswar, banyak hal yang bisa diperoleh di SMK. Lulusan SMK diyakini akan lebih mudah memperoleh lapangan kerja, karena memiliki skill dan keterampilan. Sehingga jika tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi karena ketiadaan biaya orangtuanya, bisa membuka lapangan kerja sendiri. Dunia pasar kerja pun biasanya lebih condong memilih lulusan SMK. "Lulusan SMK memiliki 3 manfaat. Bisa bekerja, bisa juga kuliah atau keduanya sekaligus. Kerja dan kuliah," kata Jaswar. Bagi para lulusan SMP, sebelum memilih melanjutkan pendidikan, lanjut Jaswar hendaknya memahami dulu proram studi lanjutannya itu. Lulusan SMA memang orientasinya ke perguruan tinggi karena di tingkatan sekolah tersebut tidak ada pelajaran keterampilan (lift skill). Beda dengan SMK yang lulusannya memiliki kompetensi sehingga sudah bisa untuk bekerja sebagai penopang hidupnya. Hal itu tidak sekadar isapan jempol. Terbukti, siswa yang magang pada praktik industri di sejumlah perusahaan, banyak di antara mereka sebelum tamat telah mendapatkan tawaran kerja di perusahaan tempatnya praktik. "Itu tentu karena berdasarkan kompetensi dan skill serta disiplin yang dimiliki di bangku SMK," ucap Jaswar seraya menyebutkan saat ini sekitar 60 perusahaan telah melakukan kerja sama dengan SMKN 1 Percut Sei Tuan, baik di tingkat regional, nasional maupun luar negeri seperti Malaysia. Jaswar mengaku hal itu juga dialami para siswanya yang ditawarkan bekerja sebelum tamat karena kemampuan yang mereka miliki. Upaya mencapai hal tersebut banyak cara yang dilakukan, di antaranya memberikan materi pelajaran praktek dan teori yang berbanding sama presentasenya. Sehingga tidak heran kelulusan SMK tahun 2009 ini mencapai 97,8 persen atau hanya 7 siswa yang tidak lulus dari berbagai program studi. Hari ini, Sabtu (20/6) dijadwalkan akan diumumkan hasil UN tingkat SMP sederajat secara serentak di wilayah Nusantara. Lantas setelah lulus ke mana para anak-anak ini akan melanjutkan pendidikannya. Apakah ke SMA atau SMK? Namun semuanya itu tergantung bakat dan kemampuan siswa yang bersangkutan. Tidak semua anak bisa dengan gampang memutuskan pilihannya. Sebab ada di antara mereka yang belum tahu bahkan masih bingung memilih SMA atau SMK. Juni Paramita, misalnya. Siswa Sekolah Nasrani yang terletak di Jalan Pendidikan Kecamatan Medan Perjuangan ini, belum memutuskan pilihan akan melanjutkan studinya SMA atau SMK. Sekalipun memiliki keinginan yang besar untuk melanjutkan pendidikan, namun sampai saat ini dia mengaku masih bingung. Demikian juga ketika ditanya, apa yang bakal dilakukan untuk masa depannya. Hal yang sama juga dialami Berliana Indriani Sirait. Siswa dari SMP Budi Murni 4 Jalan Teratai Kecamatan Medan Timur ini, juga mengaku belum menentukan pilihannya. "Belum tahu, lihat nantilah, tergantung hasil nilai UN ke mana bisa mendaftar. Jika nilainya memungkinkan akan memilih SMA, tapi jika nilai terbatas, mungkin ke SMK," ujarnya. Berbeda lagi dengan Siti Azizah, siswa SMP Muhammadiyah. Dia telah memutuskan melanjutkan pendidikan ke SMK dengan jurusan komputer. "Saya sudah putuskan masuk ke SMK, rencana sih SMK Negeri I Medan. Hal ini sesuai dengan bakat dan potensi saya di bidang tersebut, sehingga perlu dikembangkan. Karena lewat pendidikan kejuruan ini nantinya, akan lebih gampang mencari pekerjaan yang sudah punya skill," harapnya. Sementara Kepala Dinas Pendidikan Kota Medan, Hasan Basri mengatakan dalam menentukan pilihan siswa-siswi yang lulus UN dan akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, semua dikembalikan pada kemauan dan kemampuan siswa itu sendiri. Namun berdasarkan data dari tahun ke tahun, katanya tidak dapat dipungkiri jika jumlah siswa yang masuk SMA masih tetap lebih banyak. Akan tetapi, secara umum siswa yang masuk ke SMK memiliki tujuan ingin mengembangkan bakat dan keterampilannya. Pengamat pendidikan yang juga Sekretaris Fraksi Keadilan Sejahtera DPRD Medan, Jamhur Abdullah, menilai pentingnya menentukan pilihan pendidikan SMA atau SMK. Dan jangan sampai karena ikut-ikutan teman. "Sebab orang yang sukses itu, orang yang mencintai dan memiliki minat serta bakat dalam mengerjakan sesuatu. Jadi bukan ikut-ikutan. Ini sangat penting," ujar Jamhur. Menurut Jamhur, perlu melibatkan pihak lain jika seorang anak bingung menentukan pilihannya. Misalnya psikolog, agar peserta didik itu dapat menentukan pilihannya secara tepat. "Seyogianya, ini dilakukan ketika masih duduk di SMP. Pihak kounseling di sekolah pun sejak awal hendaknya sudah proaktif dalam mengembangkan bakat siswa. Tentu saja peran serta orangtua juga cukup besar dalam masalah ini," ucap Jamhur.

Reaksi Anda ???